menyimak pembacaan putusan majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN)
Jakarta Selatan, kemarin.
Gayus menyimak pembacaan putusan sembari mendelikkan mata dan ekspresi
wajah yang sulit ditebak. Bagi pakar psikologi politik Universitas
Indonesia Hamdi Moeloek, ekspresi itu memperlihatkan Gayus
memperkirakan vonis dan manuver yang akan ia lancarkan berikutnya.
Ketenangan Gayus saat menjalani persidangan, sambungnya, juga
memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi. "Dia tenang karena sedang
berstrategi. Dia pun bohong bukan karena penyakit kejiwaan, tetapi
lebih pada strategi untuk menyelamatkan diri," ujarnya.
Seusai persidangan, mantan pegawai golongan IIIA Ditjen Pajak
Kementerian Keuangan Gayus Tambunan melontarkan sejumlah isi curahan
hati (curhat) di hadapan ratusan wartawan.
Ia kesal karena merasa dikorbankan oleh Satuan Tugas (Satgas)
Pemberantasan Mafia Hukum.
Bahkan, Gayus menyebut nama sejumlah anggota satgas, yakni Mas Achmad
Santosa, Denny Indrayana, serta Yunus Husein. Bagi pakar psikologi
forensik Reza Indragiri, curhat itu tidak serta-merta dapat dipercaya.
"Sudah pasti terdakwa akan melakukan pembelaan diri dan
pengambinghitaman," cetusnya.
Pola ironi viktimisasi, menurut dia, adalah manuver dengan melontarkan
curhat.
Pola itu adalah dengan menggeser dari kesan bandit menjadi korban,
sehingga hakim dan publik diharapkan bisa bersimpati karena terekspos
pada sisi humanis Gayus dan memandangnya sebagai penjahat kecil.
"Terlepas ada atau tidaknya big fish yang ia akui, apa yang dilakukan
Gayus tetap ironi viktimisasi," katanya.
Fenomena psikologis Gayus ini terlihat dari upaya dia menampilkan dua
hal, yakni menyebut nama pihak lain dan membuka wacana baru sehingga
muncul bola liar.
"Cara dia menyampaikan sesuatu, saya hanya ikan teri atau meminta jadi
staf ahli. Itu untuk menyesatkan persepsi bahwa dia bersalah karena
keadaan," tandasnya.
Ahli psikologi forensik satusatunya di Tanah Air itu juga menyoroti
peran istri Gayus, Milana Anggraeni, dalam kasus Gayus.
"Membaca riwayat hidup Milana, dia sejak kecil terkondisi dalam
keluarga serbapunya. Perlakuan serbaada ini telah membuat Milana
menjadikan Gayus sebagai pengganti orang tuanya yang berpola asuh
kemanjaan. Ini lebih faktor kesenangan dan kerakusan," kata Reza.
Gayus sebenarnya berasal dari keluarga yang berseberangan. Gayus lahir
dan besar di Warakas, Jakarta Utara. Dia tinggal bersama orang tuanya
di Warakas I Gang 23 No 4, RT 11/RW 08.
Menurut salah seorang tetangga rumah orang tua Gayus, Leha, Gayus muda
adalah sosok menyenangkan.
"Suaranya bagus dan sering bergitar. Dia juga suka main bola,"
katanya.
Warga sekitar pun mengenal sosok ini sebagai orang yang berprestasi
akademik yang bagus. Leha masih tidak habis pikir Gayus bisa sampai
terjebak dalam kasus mafia pajak. (*/P-1)
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar